Satinah, les Misérables

Les Misérables

[SPOILER ALERT bagi yang belum menonton film Les Misérables, menonton teatrikalnya, maupun membaca novelnya]

 

Desember 2012 lalu, saya beserta beberapa rekan menonton film Les Misérables di layar lebar. Bagi yang belum tahu, film musikal keren ini mengambil latar belakang Prancis pada abad ke-19. Ceritanya berawal pada 1815, tahun kekalahan Napoleon Bonaparte di Waterloo, Belgia, setelah menyebarkan Revolusi Prancis pada akhir abad ke-18 ke negara-negara Eropa lainnya. Mengambil setting tersebut, Les Misérables memotret kisah Jean Valjean, narapidana yang dihukum 19 tahun karena mencuri sepotong roti untuk keponakannya yang kelaparan dan beberapa kali berusaha kabur. Setelah dibebaskan bersyarat pun, Valjean kesulitan memperoleh pekerjaan dan diusir dari beberapa kota karena statusnya tersebut. Ia kemudian memperoleh makanan dan tempat tinggal dari Uskup Digne, namun Valjean mencuri barang-barang perak Uskup tersebut pada malam harinya. Ketika Valjean ditangkap oleh pihak berwenang, sang Uskup bersaksi bahwa ia memang menghadiahkan barang-barang perak tersebut kepada Valjean, sehingga Valjean pun dibebaskan. Berbincang empat mata, sang Uskup menasihati Valjean agar melakukan hal yang bermanfaat di sisa hidupnya. Tergerak oleh kasih dari sang Uskup, Valjean melanggar status bebas bersyaratnya dan bersumpah akan memulai hidup baru dengan identitas baru.

Delapan tahun setelahnya, dikisahkan bahwa Valjean telah menjadi seorang pemilik pabrik dan mayor dari sub-prefektur Montreuil, departemen Pas-de-Calais di Prancis utara. Namun malang melintang tak dapat ditolak, kepala penjara bernama Javert, yang dahulu menjaga Valjean sebagai tahanan, telah ditempatkan sebagai kepala polisi di wilayah tersebut. Setelah identitas Valjean terbongkar, Javert berusaha menangkapnya kembali, sementara Valjean kabur ke suatu biara. Di sana, Valjean membesarkan seorang putri di luar nikah dari seorang mantan buruh di pabrik Valjean.

Kejar-mengejar antara Valjean dan Javert menjadi tema utama dalam film Les Misérables ini, hingga setting film berlanjut ke Pemberontakan Juni di Paris 1832. Valjean berada di pihak kelompok revolusioner “Friends of the ABC” setelah menyelamatkan salah seorang punggawa gerakan tersebut. Javert tertangkap ketika menyusup ke barikade kelompok tersebut, dan Valjean diberi peluang untuk mengeksekusi mati Javert. Diserahi nyawa kepala polisi yang selama belasan tahun mengejar-ngejarnya dan berambisi mengembalikannya ke hukuman, Valjean justru membebaskan Javert ketika tidak ada orang lain yang melihat. Javert kabur dengan kebingungan atas belas kasihan dari seorang kriminal yang selama ini ia anggap rendah.

Di kesempatan berikutnya, Javert yang mendapat peluang mengeksekusi mati Valjean. Valjean sedang memikul seorang aktivis Friends of the ABC yang terluka dan membawanya mencari dokter ketika Javert mengonfrontasinya. Valjean memohon waktu agar dapat membawa sang aktivis ke dokter, namun Javert mengancam akan menembaknya jika ia tidak menyerah. Valjean mengabaikannya dan pergi memikul sang aktivis. Mungkin Javert tertegun karena sebelumnya Valjean telah mengampuni nyawanya, yang pasti ia urung menembak Valjean. Kemudian, mungkin juga karena bingung atas konflik antara tugasnya sebagai polisi dan kode-kode moralnya, Javert bunuh diri dengan melompat ke Sungai Seine.

Dari film Les Misérables, serta novel dan teatrikal yang mendahuluinya, Valjean telah menjadi simbol sifat-sifat terbaik kemanusiaan. Ia menduduki sisi yang salah di mata hukum, namun sisi yang benar di mata virtu dan etika manusia. Sebaliknya, Javert menjadi antitesis Valjean: pria yang memperoleh kehormatan di masyarakat, namun memperoleh kehinaan ketika menyadari bahwa hukum seringkali bersifat tidak adil.

 

Satinah

 

Lima belas bulan setelah saya menonton film Les Misérables, muncullah isu Satinah. Satinah binti Jumadi, TKI asal Kabupaten Semarang yang bekerja di Arab Saudi, didakwa membunuh majikan dan mengambil hartanya. Terdapat rencana eksekusi hukuman mati terhadap Satinah pada 3 April 2014, yang hanya bisa terhindar apabila Satinah mampu membayarkan diyat atau uang darah pengganti hukuman mati setara Rp21 miliar. Diplomasi Satgas TKI dan Presiden telah berhasil membuat Arab Saudi menunda hukuman mati tersebut, tetapi bukan membatalkannya. Negara tidak akan membantu dana diyat untuk Satinah, sebagaimana dinyatakan Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin serta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Alasannya, dahulu pernah ada kejadian serupa menimpa TKI lain bernama Darsem, yang juga terancam hukuman pancung di Arab Saudi. Keluarga Darsem berhasil mengumpulkan uang melebihi diyat yang diminta, yakni Rp4,7 miliar, dari masyarakat, namun dana diyat itu lalu digunakannya untuk kepentingan pribadi, bukan untuk menepati janjinya membantu sesama TKI yang bermasalah.

Dihadapkan dengan isu Satinah ini, reaksi masyarakat cukup beragam. LSM Migrant Care dan dutanya Melanie Subono berusaha menggalang dana diyat untuk menebus Satinah dari masyarakat, dan sebagian masyarakat telah membantu hingga jumlah dana diyat nyaris tercapai. Di lain pihak, tidak sedikit pihak yang menentang usaha membantu penebusan diyat Satinah. Ada yang tidak ingin kasus Darsem terulang, ada yang menganggap Rp21 miliar adalah nilai yang tidak masuk akal untuk menyelamatkan satu orang saja, ada yang menganggap wajar jika orang yang terbukti melakukan tindak kriminal menerima hukuman, dan ada yang sekedar menertawakan mereka yang berusaha menebus Satinah karena menganggap mereka “goblok” karena “gampang dibuta[kan] [oleh] simpati cerita[-cerita] [t]angis[an] siang bolong”. (Kutipan langsung setelah melalui penyuntingan tata bahasa.)

Saya tidak habis paham sama pihak yang terakhir ini. Negara sudah menyatakan tidak akan membantu diyat Satinah, jadi bukankah mereka yang tidak menentang penebusan diyat Satinah bisa tenang karena uang pajak yang mereka bayar kepada negara tidak dipakai untuk tujuan tersebut, dan mereka tidak dirugikan apa-apa? Tidak dapatkah mereka diam saja menahan komentar-komentar yang hanya memanaskan telinga, dan duduk saja memperhatikan pihak-pihak yang benar-benar peduli terhadap Satinah? Saya pikir, apatisme yang disertai serangan terhadap pihak yang simpati itu benar-benar tidak beralasan. Terlebih, ketika pihak yang apatis ini tidak punya kepentingan yang dipertaruhkan; mereka hanya butuh objek untuk ditertawakan, untuk memuaskan perasaan superioritas semu.

Jika diyatnya ditebus, mungkinkah Satinah menjadi Darsem kedua? Mungkinkah dia menjadi warga yang lebih tidak bertanggung jawab daripada sebelumnya? Mungkinkah Satinah ternyata memang melakukan pencurian dan pembunuhan terencana, dan bukan tindak bela diri terhadap siksaan dan penganiayaan oleh majikannya? Bisa jadi.

Sebaliknya, mungkinkah Satinah sebenarnya adalah jelmaan Jean Valjean? Yang dihukum karena mencuri sepotong roti untuk keponakannya yang kelaparan? Yang kemudian bertobat menjadi manusia yang bermartabat dan terhormat? Yang membantu sesama manusia yang bermasalah dan membutuhkan? Bisa jadi.

Peluang kedua hal ini 50:50. Apakah Satinah menjadi Darsem kedua, ataupun Satinah menjadi jelmaan Valjean, sejak titik ini menjadi kuasa Tuhan. (Atau kuasa hubungan sebab-akibat, jika Anda tidak percaya Tuhan.) Bukan domain kita sebagai manusia. Apa yang terjadi pada Satinah setelah ditebus diyatnya dan diselamatkan nyawanya (jika saja penggalangan dana diyat berhasil mencapai jumlah yang dibutuhkan) bukanlah urusan kita.

Sementara itu, saran saya kepada pihak-pihak yang apatis lagi menertawakan: berdoalah agar jika suatu saat kalian berkunjung keluar negeri, kalian tidak akan tanpa sengaja melanggar hukum negara tersebut, kemudian pemerintah negara kita tutup mata terhadap masalah kalian sementara masyarakat di tanah air menertawakan kalian. Atau dengan analogi Les Misérables: berdoalah agar tidak menjadi jelmaan Javert.

 

[Akhirnya] Indonesia Juara

Timnas U-19 (2013-09-22) AFF U-19 final, Indonesia U-19 vs Vietnam U-19

Evan Dimas Darmono, kapten timnas U-19 Indonesia, dibayangi pemain Vietnam U-20 Nguyen Van Duc

Minggu, 22 September 2013 adalah tanggal yang bersejarah bagi para insan olahraga Indonesia. Betapa tidak, pada tanggal tersebut, atlet-atlet yang mewakili nama bangsa ini berhasil merebut gelar juara di berbagai cabang olahraga masing-masing. Sebut saja Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan, pasangan ganda putra dalam kejuaraan dunia bulutangkis Japan Super Series, yang sukses mematikan perlawanan pasangan Chai Biao dan Hong Wei yang mewakili China dengan skor 22-20 dan 21-16 di final. Kepada Hendra dan Ahsan, saya ucapkan selamat. Indonesia bangga padamu!

Lebih dari itu, gelar juara yang membuat bangsa ini jauh lebih senang dan bangga mungkin adalah gelar juara AFF U-19 yang berhasil diraih Evan Dimas dkk. setelah mengalahkan Vietnam U-19 dalam drama adu penalti pasca hasil tanpa gol setelah 2×45 menit ditambah 2×15 menit babak tambahan. Ini adalah kali pertama timnas U-19 berhasil masuk final sejak kejuaraan ini pertama kali dilaksanakan pada 2002, dan Garuda Muda langsung menyabet gelar juara di Stadion Delta, Sidoarjo.

Kemenangan ini harus diletakkan pada konteks persepakbolaan nasional yang sedang carut-marut. Bisa dikatakan, terakhir kalinya bangsa ini dapat merasakan kebanggaan membuncah di dada melihat timnas bermain adalah pada Piala AFF 2010, ketika timnas senior yang ditukangi Alfred Riedl berhasil menjuarai penyisihan grup dengan tiga kemenangan tanpa cela dan menang dua kali dalam laga semifinal kandang dan tandang melawan Filipina. Semua berubah ketika timnas menyerah tiga gol tanpa balas terhadap Malaysia dalam laga final tandang di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, dalam laga yang tercoreng insiden penyorotan laser hijau ke wajah kiper timnas hingga para pemain melakukan protes walk off. Timnas akhirnya berhasil menang 2-1 di laga final kandang di Stadion GBK, Jakarta (di mana terjadi aksi balas penyorotan laser hijau ke wajah kiper Malaysia), tetapi agregat 2-4 membuat timnas harus puas dengan medali perak di ajang Piala AFF tersebut.

Walau kalah, saya percaya Indonesia tetap superior dalam kejuaraan tersebut. Timnas bermain luar biasa, dengan visi dan taktik yang jelas. Firman Utina dkk. bermain kompak sebagai tim sepanjang Piala AFF 2010.

Selepas kejuaraan tersebut, apa yang terjadi? Seperti saya tuliskan di atas, sepakbola nasional carut-marut. Kegagalan Riedl mengangkat trofi sama sekali membuatnya digantikan Wim Rijsbergen (2011/12). Estafet kepelatihan timnas berlanjut ke caretaker Aji Santoso, lalu Nil Maizar (2012/13, yang prestasinya di Piala AFF 2012 bahkan hanya sampai penyisihan grup), caretaker Rahmad Darmawan, kemudian Jacksen F. Tiago (2013). Di level asosiasi, terjadi dualisme antara PSSI dan KPSI, yang berujung dualisme liga antara Liga Primer dan ISL, serta dualisme timnas. Baru setelah menghadapi ancaman suspensi dari FIFA, PSSI dan KPSI dapat berdamai, sehingga timnas pun dapat melakukan reunifikasi kembali. Banyak sekali yang dapat dituliskan tentang carut-marutnya sepakbola nasional pada periode tersebut, tetapi saya cukupkan di sini agar tidak berlama-lama.

Singkat cerita, bangsa Indonesia sudah haus akan gelar di cabang sepakbola. Kegagalan meraihnya pada Piala AFF 2010, ditambah fakta bahwa kali terakhir timnas memenangkan suatu kejuaraan sepakbola (selain Piala Kemerdekaan) adalah pada SEA Games 1991 (timnas U-21 menjuarai Piala Hassanal Bolkiah pada 2002). Hal ini berarti sudah sebelas tahun sejak terakhir timnas U-21 meraih gelar juara, dan 22 tahun sejak timnas senior meraihnya. Oleh karena itu, dengan suksesnya timnas U-19 mencapai final AFF U-19, para insan sepakbola Indonesia meletakkan segenap harapan mereka di pundak para pemuda ini.

Para Garuda Muda ini usianya lima hingga tujuh tahun lebih muda dari saya sekarang, namun mereka telah dapat menjinjing beban tanggung jawab sebesar itu. Mereka terdiri dari para pemain Deportivo Indonesia yang berpartisipasi di liga junior Uruguay, Quinta Division, serta beberapa pemain klub domestik. Bibit pemain muda memang berlimpah di bumi Indonesia. Tim ini ditukangi kepala pelatih Indra Sjafri, yang pernah menangani timnas U-16 (2011), U-17, hingga sekarang U-19, dan mempersembahkan prestasi di tengah carut-marut sepakbola nasional kala itu.

Pertandingan demi pertandingan dilalui tim Garuda Muda dalam AFF U-19 ini. Mengawali penyisihan grup dengan menang besar 5-0 atas Brunei dan kemenangan 2-1 atas Myanmar, Indonesia ditaklukkan Vietnam 1-2 pada 14 September di Stadion Petrokimia, Gresik. Setelah bangkit dengan menekuk Thailand 3-1, Indonesia menghadapi Malaysia pada laga terakhir penyisihan Grup B. Satu tiket lolos dari Grup B sudah dikantongi juara grup, Vietnam, yang telah memiliki 12 poin sebelum bertemu Brunei. Sebaliknya, Indonesia (9 poin) dan Malaysia (7 poin) sama-sama mengincar posisi kedua. Jika Malaysia menang, tim Harimau Muda akan lolos penyisihan grup, sementara Garuda Muda hanya butuh hasil minimal seri untuk melenggang ke semifinal.

Laga Garuda vs. Harimau pada 18 September 2013 di Stadion Delta, Sidoarjo, justru lebih dahulu diungguli oleh Malaysia melalui gol Jafri di menit ke-19. Jika hasil tersebut bertahan hingga peluit akhir pertandingan, Malaysia-lah yang akan melaju ke semifinal, mengorbankan timnas U-19 dengan sayap-sayap Garuda-nya yang patah, dan bangsa ini harus puas sekedar menonton tim-tim asing ini memperebutkan gelar juara di tanah Indonesia. Skenario yang tidak akan dapat diterima dengan lapang dada oleh segenap insan sepakbola Indonesia. Beruntung, sayap Garuda Muda, Ilham Udin Armayn, sukses menyamakan kedudukan di menit ke-53. Jual-beli serangan berlanjut hingga menit ke-90, namun skor 1-1 bertahan hingga akhir, mengantarkan timnas U-19 ke semifinal.

Di semifinal, Indonesia tidak menghadapi perlawanan berarti dari Timor-Leste selaku pemuncak Grup A dan berhasil menang 2-0 melalui gol Ilham Udin dan Hargianto. Bersamaan dengan itu, Vietnam menekuk Laos, runner-up Grup A, melalui gol tunggal Nguyễn Công Phượng (bukan, itu bukan tulisan alay; memang huruf bakunya seperti itu). Garuda Muda harus menghadapi tim yang telah mengalahkannya di penyisihan grup dahulu dalam laga pamungkas penentu juara AFF U-19 ini.

Bentrokan kedua Indonesia vs. Vietnam dalam kejuaraan AFF U-19 dilaksanakan pada 22 September 2013 di Stadion Delta, Sidoarjo, dengan kick-off pada pukul 20.00. Sebagaimana telah kita saksikan semalam, pertandingan berlangsung dalam tempo tinggi dan berakhir imbang dengan skor 0-0 dalam waktu normal 2×45 menit ditambah 2×15 menit babak tambahan. Adu penalti pun dilaksanakan. Jantung para penonton sempat dipacu berdebar kencang ketika penendang kedua dan ketiga timnas, Evan Dimas dan Zulfiandi, gagal berturut-turut, sementara Vietnam baru sekali gagal melalui kaki Tran Huu Dong Trieu. Harapan kembali bertiup ke timnas setelah penendang keempat Vietnam, Nguyen Tuan Anh, melakukan kesalahan dengan melambungkan bola tinggi di atas gawang. Hingga tendangan kelima, skor penalti kedua tim imbang 3-3. Adu penalti berlanjut ke sudden death. Jantung para penonton tidak dibiarkan beristirahat. Harap dan cemas beradu di udara.

  • Nguyen Huu Anh Tai, masuk. 3-4
  • Hansamu Yama Pranata, masuk. 4-4
  • Phan Thanh Hau, masuk. 4-5
  • Putu Gede Juni Antara, masuk. 5-5
  • Nguyen Van Toan, masuk. 5-6
  • Maldini Pali, masuk. 6-6
  • Pham Duc Huy, gagal! Rafi Murdianto berhasil membendung laju bola tendangannya!
  • Giliran Ilham Udin Armayn. Penendang kesembilan timnas ini mengeksekusi tendangan penaltinya dengan sempurna. 7-6 untuk keunggulan Indonesia!

Tendangan tersebut pun mengakhiri perjuangan timnas U-19 dalam final AFF U-19 tersebut. Mereka keluar sebagai juara dengan cara yang paling dramatis! Para pemuda ini akhirnya mewujudkan impian bangsa Indonesia untuk meraih kejayaan sepakbola di tempat tertinggi di level Asia Tenggara!

Terima kasih, kiper-kiper yang setia berjasa mengawal gawang Indonesia dari penetrasi tembakan lawan: Rafi Murdianto dan Ruli Desrian.

Terima kasih, bek-bek yang telah sangat disiplin menjaga lini pertahanan timnas dari serangan lawan: Muhammad Fatchurohman, Hansamu Yama Pranata, Putu Gede Juni Antara, Dimas Sumantri, Febly Gushendra, Mahdi Fahri Albaar, dan Muhamad Sahrul Kurniawan.

Terima kasih, gelandang-gelandang yang dengan cermat membendung arus bola lawan sebelum memenetrasi daerah pertahanan timnas, serta dengan kreatif mengatur pola serangan timnas dan menyuplai bola ke para penyerang: Evan Dimas Darmono, Hendra Sandi Gunawan, Muhammad Hargianto, Paulo Oktavianus Sitanggang, Al-Qomar Tehupelasury, dan Zulfiandi.

Terima kasih, penyerang-penyerang yang terus menggempur daerah pertahanan lawan, mencari celah dan ruang di antara para bek lawan dan tidak melewatkan peluang untuk melepaskan tembakan ke gawang lawan: Dinan Yahdian Javier, Ilham Udin Armayn, Maldini Pali, Muchlis Hadi Ning Syaifulloh, dan Muhammad Dimas Drajad.

Last but not least, terima kasih, staf-staf kepelatihan di bawah Kepala Pelatih Indra Sjafri: asisten pelatih Eko Purjianto dan Guntur Cahyo Utomo, pelatih kiper Jarot Supriadi, pelatih kebugaran Nursaelan, dokter tim Alfan Nur, fisioterapis Moch. Diki Widianto, serta kitman Muhni.

Kami, segenap bangsa Indonesia, bangga padamu. Kami, para insan sepakbola Indonesia, bahagia atas persembahanmu kepada bangsa ini. Prestasi yang telah kau torehkan di tengah-tengah sejarah sepakbola Indonesia yang carut-marut ini tidak akan kami lupakan. Kesuksesan kalian di masa depan akan menjadi isi dari doa-doa kami. Perjuangan kalian seterusnya tidak akan terlewatkan dari dukungan kami.

Timnas U-19 (2013-09-22) Sujud syukur

Sujud syukur para pemain timnas U-19 pascakemenangan di final AFF U-19

[Resensi] Novel ‘Rencana Besar’ oleh Tsugaeda

‘Rencana Besar’ oleh Tsugaeda (2013)

I don’t always read novels about office politics. But when I do, it’s because my campus senior wrote it.

Ya, serius. Kalau bukan karena melihat promosi novel Rencana Besar di laman media-media sosial penulisnya, saya tidak akan ‘ngeh‘ dengan novel satu ini. Bahkan kalaupun novel ini menjadi best seller, saya mungkin tetap tidak acuh karena memang tidak terlalu mengikuti best seller. Memang karena penulis yang pakai nama pena Tsugaeda itu saya kenal, saya membeli novel tersebut pada 6 September lalu.

Rencana Besar adalah karya fiksi pertama Tsugaeda, jadi tidak ada latar belakang kepengarangan yang bisa saya bahas di sini. Novel ini diterbitkan Bentang Pustaka, perusahaan penerbit dari Yogyakarta, pada 2013, dan paperback yang saya miliki adalah cetakan pertama novel ini pada Agustus 2013, yang berjumlah 369 halaman dari bab Prolog hingga Epilog (angka kelipatan 3 secara berturut-turut! magis!).

Novel ini bergenre thriller dan mengangkat setting dunia perkantoran (perbankan) di Indonesia, tepatnya bank fiktif bernama Universal Bank of Indonesia (UBI). Alur plotnya mengikuti penyelidikan Makarim Ghanim, seorang pakar manajemen sumber daya berusia awal 40-an, terhadap kasus lenyapnya uang Rp17 miliar dari pembukuan UBI, atas permintaan wakil direkturnya, Agung Suditama, yang merupakan teman sekelas Makarim ketika S-1 dulu (yang tidak terlalu disukai oleh Makarim). Agung meminta Makarim menginvestigasi tiga orang dalam UBI yang, dari hasil penyelidikan internal, dicurigai merupakan pelaku kebocoran uang tersebut: Rifad Akbar, asisten manajer treasury (AMT) UBI Jawa Timur sekaligus calon pemimpin Serikat Pekerja (di tengah cerita ia diangkat menjadi pemimpinnya) yang dikenal militan dalam memperjuangkan kesejahteraan rekan-rekannya; Reza Ramaditya, asisten manajer operasional (AMO) UBI Jawa Timur yang cerdas, namun tiba-tiba mengalami demotivasi kerja tanpa alasan jelas; serta Amanda Suseno, asisten manajer marketing (AMM) UBI Jawa Timur yang berprestasi dan mendapat kepercayaan berlebih dari pihak manajemen. Dalam melaksanakan pekerjaannya, Makarim berangkat ke Surabaya untuk menyelidiki ketiga orang tersebut. Ia kemudian menemukan sebuah skenario besar yang tersembunyi di balik selubung serangkaian kejadian yang dialaminya dalam investigasinya.

Untuk karya fiksi pertamanya, Tsugaeda melakukan pekerjaan yang baik dalam novel ini. Awal cerita terasa agak lambat sementara ia membangun plot untuk menyingkap keping demi keping yang menyelubungi rencana besar tersebut, namun saya menikmati buildup tersebut. Selama 14 bab pertama, alur berjalan lambat di jalur kiri, kemudian terjadi turning point pada plot di akhir Bab 15 yang memberikan adrenaline rush dadakan dan alur berpindah ke jalur cepat di sebelah kanan selama tiga bab berikutnya.

Rencana besar, sebagaimana judul novel tersebut, baru benar-benar tersingkap pada Bab 18-34. Sayangnya, 104 halaman yang disediakan untuk flashback cerita ini hampir tidak menyebut protagonis utama kita, Makarim, sama sekali. Jika alur tidak melompat kembali ke depan, ke waktu setelah Bab 17 sebelum flashback dimulai, novel ini seakan memiliki dua susunan penokohan yang terpisah. Pembaca dihadapkan pada kenyataan bahwa karakter utama yang petualangannya mereka ikuti selama 205 halaman tidak disinggung sama sekali hingga klimaks cerita. Seakan-akan kita baru saja menonton petualangan Luke Skywalker, Han Solo, dan Putri Leia pada trilogi original Star Wars, kemudian melanjutkan menonton trilogi prekuelnya di mana tidak ada Luke, Han Solo, dan Leia sama sekali.

Bisa dibilang, hal tersebut adalah sedikit kekurangan yang saya temukan dari novel ini. Di luar itu, novel ini berhasil menceritakan plot yang seru dan setting yang segar dan jarang diangkat, hingga saya tidak bosan membacanya hingga selesai. Applause buat karya fiksi pertama Tsugaeda ini! Saya akan kasih rating 3,5 dari 5 (terutama karena sebenarnya tema seperti ini bukan favorit utama saya, itu saja). Saya berharap Tsugaeda dapat terus berkarya dan menyajikan kisah-kisah fiksi thriller kembali yang dapat memaksa saya untuk terus membacanya hingga selesai. Mungkin berikutnya dengan lebih banyak adegan gore yang berdarah-darah.

Non Sequitur dan Shalat Istisqa

Musim kemarau tahun 2012 tak pelak membawa kekeringan yang melanda berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Sukabumi terkena dampak paling parah di provinsi ini, dengan 7.553 hektare lahan pertanian terkena kekeringan, disusul oleh CIamis dengan 5.049 hektare luas kekeringan. Ratusan pegawai di lingkungan Pemprov Jawa Barat, dipimpin oleh Gubernur Ahmad Heryawan, pun menggelar shalat istisqa untuk memohon turunnya hujan pada Selasa (18/9/2012) sekitar pukul 12.30 WIB. Sekitar dua jam kemudian, hujan deras mengguyur sebagian wilayah Kota Bandung.

Shalat istisqa adalah shalat Sunah dalam agama Islam yang dilakukan untuk meminta diturunkannya hujan. Salat ini dilakukan bila terjadi kemarau yang panjang atau karena dibutuhkannya hujan untuk keperluan atau hajat tertentu. Tak pelak, berbagai pihak mengaitkan turunnya hujan dengan shalat istisqa yang dilakukan para pegawai Pemprov Jawa Barat. Situs Bersama Dakwah menulis “Rupanya, Allah menjawab shalat istisqa’ tersebut dengan langsung menurunkan hujan pada hari itu juga”[1]. Situs Dakwatuna melaporkan peristiwa ini dengan tajuk “Gubernur Jabar Pimpin Shalat Istisqa, Lalu Hujanpun Turun”[2]. Apabila artikel-artikel berita serupa di Internet dicermati, dalam kolom komentar di bawah artikel dapat ditemukan berbagai komentar yang menghubungkan dengan keimanan Gubernur Ahmad Heryawan, seperti “salah satu pemimpin yang mendapat ridho Allah SWT…”.

Dalam logika informal dan retorika, saya pikir mengaitkan shalat istisqa pegawai Pemprov Jawa Barat&Ahmad Heryawan dengan turunnya hujan merupakan suatu fallacy, atau kekeliruan logika. Kekeliruan yang terjadi adalah kekeliruan non sequitur, yaitu mengasumsikan bahwa suatu hal merupakan penyebab hal lainnya. Non sequitur sendiri bermakna “hal itu tidak mengikuti”.

Lebih spesifik lagi, kekeliruan tersebut tergolong pada post hoc ergo propter hoc, yaitu meyakini bahwa apabila suatu hal terjadi setelah hal lain, terdapat hubungan kausal di antara keduanya. “A terjadi, kemudian B terjadi. Berarti, A menyebabkan terjadinya B.” Masalah dari logika ini adalah, mungkin saja tidak terdapat hubungan antara peristiwa A dan B. Contoh argumennya yang terkenal adalah “Rooster Syndrome”: Ayam jantan berkokok pada dini hari, kemudian matahari terbit. Maka, kokok ayam jantan dipercaya sebagai penyebab terbitnya matahari.

Kembali ke shalat istisqa pegawai Pemprov Jabar&Ahmad Heryawan dan turunnya hujan. Mengapa saya beranggapan bahwa opini yang menghubungkan kedua hal ini merupakan kekeliruan logika post hoc, walaupun sudah jelas dalilnya bahwa shalat ini adalah shalat Sunah untuk meminta diturunkannya hujan? Karena hubungan kausal antara kedua hal tersebut tidak dapat dibuktikan, apakah memang benar Allah menurunkan hujan untuk menjawab shalat istisqa tersebut. Hanya Allah yang mengetahui alasan-Nya menurunkan hujan; bisa jadi alasannya adalah hal lain, wallahu ‘alam. Berasumsi bahwa hal itu adalah shalat istisqa pegawai Pemprov Jawa Barat adalah opini yang melangkahi kapasitas manusia dan sok mengetahui rahasia Ilahi.

Opini yang mengaitkan shalat istisqa pegawai Pemprov Jawa Barat&Ahmad Heryawan dengan turunnya hujan juga mengandung suatu bahaya. Bahaya tersebut adalah bahwa indikator pemimpin yang mendapat ridho Allah direduksi menjadi apakah shalat dan doa pemimpin tersebut langsung dijawab positif oleh Allah, dalam hal ini pemimpin tersebut adalah Gubernur Ahmad Heryawan. Kita mengetahui bahwa dalam Islam, doa dapat dikabulkan oleh Allah pada saat itu juga (jawaban positif, langsung), dikabulkan pada waktu yang Allah ketahui lebih baik (jawaban positif, tunda), atau tidak dikabulkan sama sekali (jawaban negatif) karena Allah mengetahui pilihan yang lebih baik bagi orang yang berdoa tersebut.

Opini tersebut (yang mengaitkan shalat istisqa pegawai Pemprov Jawa Barat&Ahmad Heryawan dengan turunnya hujan) dapat dibuktikan salah melalui kontraposisi. Hal ini yaitu metode untuk membuktikan pernyataan (A –> B) dengan pernyataan (¬B –> ¬A). Apabila A menyebabkan B, secara logis apabila B tidak terjadi dapat dibuktikan bahwa A tidak terjadi. Apabila turunnya hujan dipandang sebagai indikator bahwa Ahmad Heryawan adalah pemimpin yang mendapat ridho Allah (pemimpin mendapat ridho Allah/A, maka doa langsung dikabulkan/B), secara logis apabila doa seorang pemimpin tidak langsung dikabulkan/ ¬B, maka pemimpin tersebut bukanlah pemimpin yang mendapat ridho Allah/ ¬A.

Mengikuti kontraposisi tersebut, apabila setelah shalat istisqa hujan tidak segera turun, dapat dibuktikan bahwa Ahmad Heryawan bukanlah pemimpin yang mendapat ridho Allah. Kesimpulan ini sangat berbahaya, karena kita tentu tidak dapat menghakimi apakah Ahmad Heryawan mendapat ridho Allah atau tidak; hal tersebut, sekali lagi, adalah rahasia Ilahi. Di lain pihak, apabila gubernur lain dari daerah yang juga kekeringan melakukan shalat istisqa namun hujan tidak juga turun, mengikuti logika tersebut dapat disimpulkan bahwa gubernur tersebut tidak mendapat ridho Allah.

Apakah kita boleh berasumsi demikian apabila, misalnya, Gubernur Sulawesi Tengah (daerah dengan curah hujan terendah di Indonesia tahun ini) Longki Djanggola melakukan shalat istisqa namun hujan tidak juga turun, gubernur tersebut tidak mendapat ridho Allah? Tentu tidak.

Shalat istisqa yang dilakukan para pegawai Pemprov Jawa Barat mungkin menjadi salah satu faktor Allah menurunkan hujan di Bandung. Kendati demikian, apakah hal itu benar-benar berhubungan, hanya Allah yang mengetahui. Wallahu ‘alam.

Dari Jared Leto dan Bendera Merah Putih

APA YANG SUDAH KAU DAN AKU LAKUKAN UNTUK INDONESIA?

Jumat (22/7) malam, gua bersama seorang temen gua berkesempatan datang ke Java Rockin’ Land (JRL) 2011, suatu festival musik rock di Pantai Carnaval Ancol, Jakarta. Tujuan utama gua adalah nonton Thirty Seconds to Mars (30STM), band heavy rock / alternative rock asal Los Angeles, Amerika Serikat, yang terkenal dengan single-singlenya seperti The KillA Beautiful LieFrom YesterdayKings and Queens, dan Hurricane serta sang vokalis, Jared Leto, yang juga berprofesi sebagai aktor dan dikagumi banyak kaum hawa karena ganteng [bukan, gua bukan gay; ini benar-benar kata para wanita]. FYI, gua jarang nonton festival-festival musik seperti ini, karena gua cuma mahasiswa miskin yang belum punya pendapatan sendiri dan kuliah dibiayai uang rakyat. Hiburan kayak gini, bagi gua, cuma sekali-sekali kalo ada duit lebih hasil nabung. Niat awal cuma hiburan. Namun, gak disangka-sangka, gua memperoleh pengalaman berharga, yang menggelitik rasa nasionalisme di hati gua.

30STM datang agak terlambat, namun langsung menghentak Pantai Carnaval Ancol dengan lagu-lagunya yang cadas. A Beautiful LieAttackFrom YesterdayAlibiThe Kill. Di tengah kerumunan massa Echelon (sebutan penggemar 30STM) yang menggila, gua dan temen gua ikut melompat-lompat, headbang, melambai-lambaikan tangan, ikut nyanyi, berteriak; pokoknya menggila. Kemudian, 30STM melanjutkan ke lagu Closer To The Edge. Gua tersentak melihat apa yang Jared Leto lakukan sebelum masuk ke lagu ini.

Vokalis flamboyan 30STM ini membawa bendera Merah Putih (ya, bendera pusaka Indonesia) ke atas panggung dan membalut badannya dengan bendera tersebut. Sebelumnya, Leto beberapa kali mengaku sangat terpesona dengan sambutan yang didapatkan dari fans Indonesia dan mengucapkan rasa terima kasihnya karena bisa berada di negeri ini. Kesannya dia suka banget sama Indonesia, kayak Benji dan Joel Madden dari Good Charlotte yang katanya cinta Jakarta dan Indonesia. 30STM kemudian menutup konser pertama kalinya di Indonesia dengan menyanyikan lagu Kings And Queens.

Belakangan, gua tahu bahwa Leto melakukan hal yang sama (bawa bendera kebangsaan negara tersebut) di negara-negara yang pernah didatangi 30STM sebelumnya. Tapi, who cares. Poin gua adalah, gua melihat dengan mata kepala gua sendiri, seorang foreigner yang baru pertama kali ke Indonesia, membawa bendera Merah Putih dengan semangat. Dari nniat awal cuma ingin cari hiburan, gua dapat sedikit pengingatan kecil tentang nasionalisme.

Sepulang dari Pantai Carnaval Ancol, sesuatu terbersit dalam pikiran gua. Berapa kali kita, warga Indonesia, terjebak nasionalisme musiman? Yang mengibarkan bendera Merah Putih cuma ketika perayaan tujuh belasan? Yang nyanyi Indonesia Raya cuma pas nonton timnas sepakbola kita main di Gelora Bung Karno? Berapa banyak kita terjebak nasionalisme simbolis? Yang merasa bangga punya pernak-pernik keindonesiaan seperti kaos-kaos dengan desain yang “Indonesia banget”? Yang merasa keren dengan nge-Twit kutipan-kutipan yang berbau nasionalis?

Karena kesal dibilang nasionalis musiman, seorang Pandji Pragiwaksono (penyiar radio Hard Rock FM, presenter televisi di acara Provocative Proactive, sekaligus penyanyi hiphop) membuat program Satu Tiang Satu Tahun, di mana dia memasang bendera Merah Putih di depan rumah selama satu tahun penuh. (http://pandji.com/satutiang-satutahun) Langkah yang cukup konkrit, menurut gua.

Ketika berpikir bahwa bisa jadi gua adalah orang yang terjebak nasionalisme musiman dan simbolis, gua terdiam. Gua merenung, apa yang sudah gua lakukan untuk Indonesia? Dua puluh satu tahun gua habiskan untuk diri sendiri. Gua gak tahu gimana gua bisa mengklaim bahwa gua mencintai bangsa ini. Kata orang, “tak kenal maka tak sayang”. Apakah gua sudah mengenal Indonesia, sehingga bisa menyayanginya? Sepertinya belum. Gua tentu saja belum pernah menjamah 17 ribu pulau yang membentuk 1,9 juta km2 wilayah tanah air ini. Gua tentu saja belum pernah bertemu 237 juta populasi warga negara ini. Ketemu aja belum pernah; gimana mau mengenal, apalagi mencintainya? Speaking of Benedict Anderson’s Imagined Communities, (http://books.google.co.in/books?id=4mmoZFtCpuoC) kita gak pernah bertemu muka dengan saudara-saudara sebangsa dan setanah air kita; mereka yang pernah kita temui mungkin gak sampai 1% dari seluruh populasi negeri ini.

Karena bingung, gua nanya ke para follower gua di Formspring pertanyaan ini:

Bagaimana cara mencintai ia yang tak pernah kau temui? Yang tak pernah kau salami? Yang tak pernah bersama ketika kau tertawa, tak pernah mengusap air matamu ketika kau menangis? Yang wajahnya belum pernah kau lihat? Yang namanya belum pernah kau ketahui?

Konteks pertanyaan ini adalah bagaimana cara mencintai saudara sebangsa dan setanah air kita, tapi sengaja gua bikinblur makna aslinya. Praktis banyak yang jawabnya salah paham. Akan tetapi, gua memang ingin follower gua menjawab secara umum, gimana cara mencintai orang yang tak pernah ditemui. Jawaban-jawaban yang menurut gua bagus antara lain:

yah cintailah dengan memberikan manfaat.. Manfaat untuk diri sendiri dan orang-orang lain. (oleh: pageof****)

lewat do’a 🙂 (oleh: *******dewi)

Dan yang terbagus, menurut gua, adalah:

Baca referensinya di Quran dan hadis, begitulah caraku mencintai muhammad (oleh: wahyu****)

Gua rangkum jawaban-jawaban ini dengan:

  1. Baca tentang mereka, saudara-saudara sebangsa kita. Bagaimana mereka hidup, baik yang di Pulau Weh maupun yang di Merauke, baik yang di Pulau Miangas maupun yang di Pulau Rote. Ini bisa dilakukan: sudah mulai banyak buku, artikel majalah, dan acara televisi yang membahas kehidupan saudara-saudara sebangsa kita di daerah-daerah lain.
  2. Doakan mereka. Doakan kebaikan mereka, kesehatan mereka, kesejahteraan mereka, kenaikan taraf hidup mereka, dan kegembiraan mereka. Ini mudah: yang perlu dilakukan hanya meluangkan sejenak waktumu untuk mendoakan mereka.
  3. Berikanlah manfaat untuk mereka.

Gua terdiam. Bagaimana cara gua memberi manfaat untuk saudara-saudara sebangsa dan setanah air gua?

Apa yang harus gua lakukan untuk Indonesia?

Mungkin kau bisa sharingsharing. Apa yang sudah kau lakukan untuk Indonesia? Agar bisa menginspirasi gua.

Indonesia Tak Juara, Tapi Tetap Superior

Tim nasional Indonesia mampu menang 2-1 atas Malaysia pada laga final kedua Piala AFF 2010 di Gelora Bung Karno, Rabu, 29/12/2010, namun harus puas dengan hanya mengakhiri turnamen sebagai runner-up setelah kalah 0-3 pada laga pertama, Minggu, 26/12/2010. Malaysia pun mengklaim gelar juara Piala AFF 2010.

Sebagai supporter timnas Indonesia, saya tetap menganggap timnas Indonesia jauh lebih superior daripada Malaysia. Silakan menyebutnya sebagai pelipur lara, namun kita dapat melihat dari statistik berikut:

 

Indonesia

vs. Malaysia (penyisihan Grup A, 1/12), menang 5-1 (poin 3)

vs. Laos (penyisihan Grup A, 4/12), menang 6-0 (poin 3)

vs. Thailand (penyisihan Grup A, 7/12), menang 2-1 (poin 3)

vs. Filipina (semifinal pertama, 16/12), menang 1-0 (poin 3)

vs. Filipina (semifinal kedua, 19/12), menang 1-0 (poin 3)

vs. Malaysia (final pertama, 26/12), kalah 0-3 (poin 0)

vs. Malaysia (final kedua, 29/12), menang 2-1 (poin 3)

Statistik total: Main: 7. Menang: 6. Seri: 0. Kalah: 1. Selisih gol: 11 (17-6). Poin: 18.

 

Malaysia

vs. Indonesia (penyisihan Grup A, 1/12), kalah 1-5 (poin 0)

vs. Thailand (penyisihan Grup A, 4/12), seri 0-0 (poin 1)

vs. Laos (penyisihan Grup A, 7/12), menang 5-1 (poin 3)

vs. Vietnam (semifinal pertama, 15/12), menang 2-0 (poin 3)

vs. Vietnam (semifinal kedua, 18/12), seri 0-0 (poin 1)

vs. Indonesia (final pertama, 26/12), menang 3-0 (poin 3)

vs. Indonesia (final kedua, 29/12), kalah 1-2 (poin o)

Statistik total: Main: 7. Menang: 3. Seri: 2. Kalah: 2. Selisih gol: 4 (12-8). Poin: 11.

 

Dilihat dari statistik tersebut, jelas Indonesia lebih unggul. Dari jumlah permainan yang sama, Indonesia merebut 18 poin (6 W + 1 L), sementara Malaysia hanya memperoleh 11 poin (3 W + 2 D + 2 L). Indonesia pun mencetak lebih banyak gol dan kebobolan lebih sedikit gol, sehingga memperoleh selisih gol yang jauh lebih banyak daripada Malaysia (selisih 11 banding selisih 4).

Bahkan, lolosnya Malaysia dari penyisihan Grup A pun sedikit banyak dibantu oleh kemenangan Indonesia atas Thailand pada laga terakhir Grup A, di mana Indonesia mengalahkan Thailand yang baru mengantongi poin 2, sehingga Malaysia yang baru mengalahkan Laos dan memperoleh poin 4 dapat lolos. Apabila Indonesia menyerah kepada Thailand pada laga tersebut, Thailand akan mengantongi poin 5 dan dapat lolos bersama Indonesia yang sebelumnya telah memperoleh poin 6; menyisihkan Malaysia dari penyisihan Grup.

Secara Head-to-Head pun, dalam Piala AFF kali ini Indonesia masih unggul dari Malaysia. Kedua tim bertemu sebanyak tiga kali dalam kompetisi ini. Catatan hasil pertandingannya adalah:

 

(Penyisihan Grup A, 1/12) Indonesia 5-1 Malaysia

(Final pertama, 26/12) Malaysia 3-0 Indonesia

(Final kedua, 29/12) Indonesia 2-1 Malaysia

 

Statistik total:

Indonesia: Menang: 2. Kalah: 1. Selisih gol: 2 (7-5). Poin: 6.

Malaysia: Menang: 1. Kalah: 2. Selisih gol: -2 (5-7). Poin: 3.

 

Bukankah dengan melihat data statistik di atas, wajar apabila saya tetap menganggap timnas Indonesia jauh lebih superior daripada Malaysia? Namun, dunia kompetisi memang kejam. Dalam kompetisi berformat turnamen seperti Piala AFF, yang menentukan gelar adalah hasil pertandingan dari awal hingga akhir. Malaysia, yang dapat lebih unggul pada pertandingan final (yang dapat diibaratkan sebagai “decisive battle” dalam istilah perang Clausewitzian), pun dapat keluar sebagai juara Piala AFF. Bukan Indonesia, yang menang pada pertandingan terakhir dan juga menorehkan catatan yang jauh lebih bagus daripada lawannya.

Mungkin benar pandangan Machiavellian bahwa “the end justifies the means”. Hasil akhir menentukan segalanya.

Namun, saya tetap mendukung timnas Indonesia dan segenap jajaran pemain, pelatih, dan staf pelatih. Semoga Indonesia dapat merebut gelar juara di kompetisi-kompetisi berikutnya, seperti SEA Games 2011 dan Olimpiade 2012.

 

#NurdinTurun