Peradaban Atlantis: Berada di Indonesia?

Atlantis (dalam bahasa Yunani, Ἀτλαντὶς νῆσος, berarti “pulau Atlas”) adalah suatu pulau legendaris yang pertama kali disebut dalam dialog Plato, Timaeus dan Critias. Dalam dialog tersebut, Atlantis adalah suatu kekuatan angkatan laut yang berada “di depan Pilar-pilar Hercules”[1] yang menaklukkan banyak bagian Eropa Barat dan Afrika 9.000 tahun sebelum masa Solon,[2] atau kira-kira pada 9600 SM. Setelah kegagalan usaha menginvasi Athena, Atlantis tenggelam ke samudera. Kemungkinan keberadaan Atlantis yang sesungguhnya didebatkan selama masa klasik, namun biasanya hal tersebut ditolak. Hanya sedikit yang diketahui selama Masa Pertengahan, namun cerita Atlantis ditemukan kembali oleh para Humanis[3] pada periode awal masa modern. Deskripsi Plato menginspirasi karya-karya utopia beberapa penulis Renaissance, seperti New Atlantis Francis Bacon.[4] Atlantis menginspirasi banyak literatur masa kini, dari fiksi ilmiah hingga film, dan nama tersebut telah menjadi pameo bagi seluruh peradaban maju pada zaman prasejarah yang hilang.

Kisah Atlantis

Terdapat beberapa versi kisah Atlantis. Menurut dialog Plato (di mana Atlantis pertama kali disebutkan), Critias,  para dewa Hellenik membagi daratan sehingga tiap dewa memiliki banyak wilayah, dan Poseidon mewarisi pulau Atlantis. Poseidon kemudian jatuh cinta kepada Cleito, putri Evenor dan Leucippe, yang kemudian melahirkan lima pasang putra kembar. Putra tertuanya, Atlas, menjadi raja sah seluruh pulau dan samudera (yang kemudian disebut Samudera Atlantis), dan diberikan gunung kelahirannya dan wilayah sekitarnya. Saudara kembar Atlas, Gadeirus (Yunani: Eumelus) diberikan pulau-pulau hingga Pilar-Pilar Hercules. Empat pasang putra kembar lainnya juga diberikan “kekuasaan atas banyak manusia dan wilayah yang luas”.

Menurut Critias, 9.000 tahun sebelum masa hidup Plato, suatu perang terjadi antara mereka yang berada di luar Pilar-Pilar Hercules dan Selat Gibraltar dengan mereka yang tinggal di dalamnya. Penduduk Atlantis telah menaklukkan wilayah Libya dalam Pilar-Pilar Hercules hingga Mesir dan benua Eropa hingga Tyrrhenia,[5] dan memperbudak para penduduknya. Penduduk Athena memimpin persekutuan para penentang kekaisaran Atlantis, namun persekutuan tersebut mengalami disintegrasi, dan Athena sendiri menghadapi kekaisaran Atlantis, membebaskan tanah yang diduduki. Timaeus kemudian mengungkapkan bahwa kemudian terjadi gempa bumi dan banjir dalam satu hari dan malam, di mana pulau Atlantis tenggelam di samudera dan menghilang.

Ignatius Donnelly (2001) mengungkapkan berbagai proposisi lain tentang Atlantis. Misalnya, bahwa Atlantis adalah kawasan pertama di mana manusia pertama kali naik dari barbarisme menuju peradaban; bahwa agama asli bangsa Atlantis adalah penyembahan terhadap matahari; bahwa koloni pertama yang dibentuk bangsa Atlantis terdapat di Mesir, yang peradabannya merupakan reproduksi peradaban Atlantis; bahwa Atlantis adalah bangsa pertama yang membuat perkakas dari besi; dan bahwa Atlantis adalah anggota pertama keluarga bangsa Arya atau Indo-Eropa, bangsa Semit, dan ras Turania.[6]

Atlantis di Indonesia?

Atlantis, The Lost Continent Finally Found

Prof. Arysio Santos (2005) Atlantis, The Lost Continent Finally Found

Sejak dahulu, telah terdapat banyak pendapat tentang lokasi Atlantis, hingga Atlantis telah menjadi suatu konsep umum yang terpisah dari dialog Plato, karena banyak pendapat tentang lokasi tersebut tak terletak di Atlantik. Kebanyakan lokasi yang diusulkan terletak di Laut Mediterranea: pulau seperti Sardinia, Crete dan Santorini, Sisilia, Cyprus, dan Malta; kota atau negara daratan seperti Troy, Tartessos, dan Tantalus (di provinsi Manisa), Turki; Israel-Sinai atau Kanaan; dan Afrika barat laut.[7] Di Samudera Atlantik, beberapa lokasi seperti di Eropa utara, termasuk Swedia, atau di Laut Utara, Beting Celtic dan Andalusia, Irlandia,[8] Kepulauan Canary, dan Kepulauan Azores. Selain itu, terdapat juga pendapat bahwa Atlantis berlokasi di Karibia, seperti di Kuba, Bahama, atau Segitiga Bermuda. Namun, yang paling menarik tentu saja pendapat bahwa Atlantis berlokasi di Indonesia.

Pada Agustus 2005, Prof. Arysio Santos merilis buku berjudul Atlantis: The Lost Continent Finally Found, yang berargumen bahwa Atlantis sebagai peradaban yang hilang berada di Hindia (India dan Indonesia). Menurut Prof. Santos, Hindia adalah situs sebenarnya Atlantis, diperingati di bawah nama Atlantis dan Lemuria[9] baik oleh Atlantologis dan Okultis. Atlantis meninggalkan jejak-jejak yang jelas dari keberadaan masa lampaunya di Hindia dalam bentuk tradisional dan arkeologis, serta menembus seluruh bidang usaha manusia. Tradisi Atlantis sangat hidup baik di India dan Indonesia, tersembunyi di bawah kekayaan mitologi dan tradisi keagamaannya.[10]

Benarkah teori Prof. Santos? Penulis tak memiliki kapasitas untuk mengonfirmasinya. Yang pasti, Atlantis akan tetap menjadi nama bagi seluruh peradaban maju pada zaman prasejarah yang hilang, merepresentasi suatu memori universal suatu daratan besar di mana manusia tinggal dalam kedamaian dan kebahagiaan.


[1] Pilar-Pilar Hercules (Latin: Columnae Herculis) adalah frase yang digunakan pada masa klasik terhadap tanjung-tanjung yang mengapit jalur masuk Selat Gibraltar

[2] Solon adalah negarawan, pembuat hukum, dan penyair elegi Athena pada 638–558 SM

[3] Humanis adalah para pemikir beraliran Humanisme, suatu filsafat moral yang menganggap manusia sebagai kepentingan utama; suatu perspektif yang umum dalam cakupan luas pendirian etika yang menganggap penting martabat, perhatian, dan kapabilitas, serta secara khusus, rasionalitas manusia

[4] Sir Francis Bacon, 1st Viscount St Alban, (22 Januari 1561–9 April 1626), adalah seorang filsuf, negarawan, ilmuwan, pengacara, ahli hukum, dan pengarang asal Inggris. Novelnya New Atlantis diterbitkan pada 1623 sebagai aspirasi dan gagasannya tentang suatu dataran ideal di mana “kemurahan hati dan pencerahan, martabat dan keindahan, kesalehan dan semangat publik” adalah kualitas umum para penduduk Bensalem

[5] Tyrrhenia, atau Etruria, adalah suatu wilayah di Italia Tengah, berlokasi di suatu wilayah yang meliputi bagian yang sekarang merupakan Tuscany, Latium, Emilia-Romagna, dan Umbria

[6] Ignatius Donnelly, Atlantis: The Antediluvian World (© 2001 Blackmask Online, http://www.blackmask.com)

[7] Harvey Lilley, “The wave that destroyed Atlantis”, BBC News Online, 20 April 2007

[8] Rainer W. Kuhne, “A location for “Atlantis”?Antiquity Vol. 78 No. 300 Juni 2004, http://antiquity.ac.uk/ProjGall/kuhne/

[9] Lemuria adalah nama “daratan yang hilang” yang secara hipotesis berada di Samudera Hindia atau Samudera Pasifik

[10] Prof. Arysio Santos, Atlantis: The Lost Continent Finally Found (Atlantis Publications, 2005)

Pendidikan untuk Palestina

(Pendidikan sebagai Salah Satu Upaya Rekonstruksi Palestina)

Sejak pendirian secara unilateral negara Israel, diskriminasi terhadap pendidikan Palestina telah menjadi unsur kunci dalam proyek Israel melawan perjuangan Palestina demi keadilan dan kebebasan di tanah air mereka. Israel melakukan beragam upaya penghancuran infrastruktur pendidikan. Sejak 2000, sebanyak 12 kampus dan sekolah telah ditutup Israel lewat instruksi militer, sebanyak 1.125 sekolah dan kembaga pendidikan tinggi dibekukan aktivitasnya, dan sebanyak 316 serangan terhadap lembaga-lembaga pendidikan, pengajaran, sekolah, kampus, kantor departemen, dan kantor pendidikan terjadi, serta sebanyak 43 sekolah diubah menjadi tanksi militer Israel.[1] Dalam esai ini, penulis berargumen bahwa selain sebagai hak bagi setiap manusia termasuk anak-anak Palestina dan sebagai jaminan kehidupan yang lebih baik, pendidikan memiliki peran penting dalam upaya rekonstruksi Palestina, dan karena itu penting untuk menjadi prioritas dalam rekonstruksi Palestina.

Kondisi Pendidikan di Palestina

Berdasarkan laporan “Palestine: The education of children at risk”, Save The Children Alliance, West Bank and Gaza (2001)[2], kekerasan yang terjadi di Palestina sebagai efek krisis yang terjadi telah membawa kepada berkurangnya akses pendidikan serta pelayanan-pelayanan dasar lainnya, termasuk perawatan medis darurat. Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa anak-anak Palestina telah memiliki pemahaman yang jelas tentang hal ini kemudian terlibat dalam tindakan politik awal karena melihat hak-hak mereka tereduksi. Sulit untuk mencegah anak-anak terlibat dalam konfrontasi ketika hak-hak mereka terus-menerus terkikis, namun sistem pendidikan Palestina telah berhasil menjaga anak-anak aktif dan fokus pada kebutuhan-kebutuhan anak-anak. Hak-hak anak-anak juga dipengaruhi oleh rezim hak yang dilemahkan oleh interpretasi sepihak Israel atas kewajibannya di bawah hukum internasional dan implementasi proses perdamaian. Dalam laporan yang lebih aktual, Palestinian grassroots Anti-Apartheid Wall Campaign (2007) menyebutkan bahwa sejak 1948 warga Palestina di bawah kendali Israel telah menghadapi sistem pendidikan yang rasis dan represif yang merupakan bagian integral dari pendudukan Israel. Sejak September 2000, dengan dimulainya Intifadhah kedua, Israel kembali melancarkan serangan-serangan militer terhadap institusi-institusi pendidikan Palestina. Sejak 2002, dinding yang didirikan Israel yang mengelilingi dan mengisolasi kota-kota dan desa-desa Palestina di Tepi Barat pun menjadi salah satu sarana diskriminasi terhadap pendidikan Palestina, dengan sistem gerbang dan perizinan yang memenjarakan warga dalam desa-desa tersebut dan memisahkan mereka dari tanah, pekerjaan, pelayanan kesehatan, dan fasilitas pendidikan mereka. Karena kesulitan melewati pos pemeriksaan, kebanyakan pelajar kini harus belajar di universitas yang paling dekat dengan rumah mereka, atau menyewa akomodasi dengan biaya yang besar.[3]

Pendidikan sebagai Upaya Rekonstruksi Palestina: Landasan Teoritis dan Dampak Kebijakan

Peter Buckland (2005) menyebut bahwa konflik kekerasan, dengan serangan berdarah terhadap manusia dan institusi serta akibatnya yang buruk, adalah contoh “kebalikan pembangunan”. Salah satu dampak paling menghancurkan dari konflik kekerasan adalah kerusakan yang diakibatkannya terhadap sistem pendidikan dan anak-anak serta para siswa yang dilayani sistem tersebut.[4] Namun, dalam buku yang sama Buckland menyampaikan bahwa pendidikan memiliki peran kunci baik dalam mencegah konflik maupun dalam membangun kembali masyarakat pascakonflik. Hal ini karena pendidikan menuntut prioritas tinggi baik pada fase humaniter awal respon nasional dan internasional terhadap konflik maupun pada fase pembangunan pascakonflik.[5]

Situasi di Palestina merefleksikan kebutuhan akan sistem pendidikan yang seringkali melampaui kapasitas yang ada. Berdasarkan argumen Peter Buckland, saya ingin menyampaikan empat titik awal sebagai prioritas dalam rekonstruksi pendidikan pascakonflik sebagai berikut.

1. Fokus pada dasar-dasar agar sistem pendidikan dapat berfungsi sehingga anak-anak dan para pemuda yang kembali bersekolah dapat dilihat sebagai “manfaat perdamaian” yang akan membantu menggalang dukungan terhadap perdamaian. Hal ini termasuk pembangunan kembali berbagai infrastruktur pendidikan yang dihancurkan Israel, jaminan atas akses pendidikan seluruh warga Palestina tanpa diskriminasi pada semua jenis dan jenjang pendidikan. Dalam hal ini, kebijakan pendudukan Israel yang represif terhadap sistem pendidikan Palestina harus diberangus.

2. Pengakuan terhadap kepentingan simbolisme dalam pendidikan dan jaminan atas berbagai tindakan simbolik yang tegas, sebagai isyarat bahwa walaupun sebagian besar sistem tak berubah, rekonstruksi pendidikan telah dimulai. Contoh hal ini adalah pembersihan buku-buku pelajaran, yang oleh Israel telah dicetak merancang ulang sejarah dan kenyataan sesuai dengan mitos-mitos Zionisme yang mengklaim hak dari Tuhan atas tanah Palestina dan melegitimasi pengusiran warga Palestina dan pemberian status kelas dua kepada warga Palestina dalam tanah air mereka.[6]

3. Pembangunan pengakuan bahwa rekonstruksi pendidikan adalah proses bertahap dan harus dilakukan terus-menerus yang membutuhkan waktu yang lama dan harus dipimpin dari dalam negeri dengan membangun konsensus atas visi pembangunan masyarakat yang lebih luas.

4. Fokus dari awal pada pembangunan kapasitas untuk rekonstruksi, termasuk mendukung partisipasi masyarakat, otoritas lokal, dan stakeholder lainnya. Seluruh syarat dan keperluan untuk rekonstruksi sistem pendidikan harus dipenuhi, seperti resources dan sarana yang diperlukan. Motor penyelenggaraan sistem pendidikan Palestina harus dialihkan dari Israel ke otoritas lokal yang akuntabel, bertanggung jawab, dan mempraktikkan good governance. Partisipasi masyarakat, terutama kalangan grassroot, harus didukung agar tidak terjadi eksklusi minoritas dalam penyelenggaraan pendidikan.

Catatan Akhir

Berbagai titik awal di atas mengimplikasikan bahwa sistem pendidikan Palestina tak dapat diserahkan kepada Israel, yang tampaknya berniat menghancurkan pendidikan Palestina karena pendidikan dapat meningkatkan potensi perlawanan rakyat Palestina. Di sini peran komunitas internasional sangat diperlukan. International Court of Justice perlu menyatakan represi Israel terhadap pendidikan Palestina sebagai ilegal. PBB diharapkan dapat melakukan intervensi humaniter untuk menjamin kelangsungan rekonstruksi pendidikan yang diperlukan di Palestina. Masyarakat dunia, melalui berbagai non-governmental organization (NGO) perlu melakukan berbagai usaha advokasi demi terwujudnya hal ini. Contoh hal ini adalah kampanye internasional untuk memboikot, memutus investasi, dan memberi sanksi terhadap Israel.

[1] Shofwan Al Banna, Palestine: emang gue pikirin! (Yogyakarta: ProYou), hlm.41-42

[2] Lihat http://www.forcedmigration.org/psychosocial/inventory/pwg007/pwg007.pdf

[3] Lihat Palestinian grassroots Anti-Apartheid Wall Campaign, “Students in Palestine: Education under Occupation and Apartheid”, www.stopthewall.org

[4] The World Bank (2005) menyebutkan bahwa lebih dari dua juta anak –anak telah meninggal sebagai akibat langsung konflik bersenjata dalam satu dekade terakhir, serta berbagai dampak lain konflik bersenjata terhadap pendidikan. Lihat kata pengantar oleh Jean-Louis Sarbib dalam Peter Buckland, Reshaping the Future: Education and Post-Conflict Reconstruction (Washington, D.C.: The World Bank, 2005), hlm.xi-xii

[5] Peter Buckland, Reshaping the Future: Education and Post-Conflict Reconstruction (Washington, D.C.: The World Bank, 2005)

[6] Lihat “Students in Palestine: Education under Occupation and Apartheid”, op. cit.

SI VIS PACEM, PARATI PARA BELLUM

Quiet.
Peaceful.
Looks like the war is over.
Looks like, in the end, we don’t have to fight again.
The soldier puts down his sword, filthy with enemy’s blood.
He puts down his shield, scarred from enemy’s sword.
He takes off his armors, for those had been weighting him.
He was beaten and damned.
He is wary of wars.
He has his answers.
He will soon lay down.

Quiet.
Peaceful.
The soldier finds a thick, leafy tree.
Seems like the tree can fix his battle damage.
He rests his back against the tree,
where he feels tranquility.
He hears birds chirping, waters flowing,
bells jingling, breeze passing.
He hears all sound of peace,
all packed nicely in one single piece.
He is about to shut his eyes–

–No.
Somewhere away, the sounds of battle are still heard.
The clang of blades bumping each other.
The sounds of horses’ footsteps on the earth.
The war is not over.
Deep inside his heart, the soldier knows very well,
he hasn’t found the answer he was looking for in the battlefield.
He is only escaping the call of wars,
cause he couldn’t find the answers.

He realizes he cannot escape.
He cannot fake peace and rest himself.
In the end, is there really such thing as ‘peace’?
Why do mankind always fight each other in the first place?
Why do wars occur?
What is the cure?
There’s no such thing,
so no end to fighting.

The soldier puts on his armors, for those had once made him proud.
He takes his shield, for that had been protecting him.
He grips the sword, for those had been helping him pursue his goals.
Calm. Quiet.
Such things are to forget…

Ophelia by Alexandre Cabanel

Where’d You Go

Where’d you go?
I miss you so
seems like it’s been forever
that you’ve been gone
©Fort Minor (feat. Holly Brook & Jonah Ma..), Where’d You Go, The Rising Tied, 2005

Fair lady, my exotica friend,
who were loved by my friends,
who had always comforted me as the morning rain clouded up my window,
who always sang as seven beautiful colors in harmony formed an arc in the sky,
and whose existence always reminded me of the sun beyond the clouds,
watching over humans, bringing hope after the hurricanes died

When you were gone, I knew you were afternoon drizzles,
pouring down on earth in very fine drops, nobody would grow fear,
sending happiness, calming angers, stopping all battles,
yet so light and concise, hard to hold dear

And I was so sorry,
to you I was guilty
Although you said, “Come and fix me,”
I came, but with uncertainty
Although you had connected the earth and the sky that would otherwise be distant,
I had always been ignorant

To Realist me, you were a Great Power and an enemy,
possessing qualities that inspired me great envy, but
to Idealist me, you were innocence and purity,
the dawn of hopes in one single beauty

Flowers bloomed on the grass you had poured on
You purified the river you showered on
I hoped you knew every time you were gone,
farmers and all humans prayed for your return
So would I, with hands held high into the sky so blue,
wishing your health, well-being and return; wishing you

Please come back home
©Fort Minor, ibid.

This is not a love song
No, this is not a love song

Rap Written by Shit

My heart’s gone cold I’m wondering why I..
fuckin hatin you all
Wakin the morning I’ma think how
I want to kill you all
And even if I tried to let it that way,
I been knowin all your lies,
It’s tellin me, that it’s all fucked up,
it’s all fucked up..

Dear “friends”, I hate y’all but you still ain’t knowin
I cock my bombs, my pistol, and aim at you to maim y’all
Been two years I’m fucked up seein you, still two years to pass him
There’ll probably a time I’ll explode; fuck it, you I’ll start killing
Sometimes I scribble your names on the Death Note found on the street
but anyways; fuck it, what’s been up? Why you’re still living?
Must-a need strait jacket, I’m bout to be a killer
If I conduct murder, guess who I’ma murder?
Course-a you one-by-one
I heard you’re accepted in the program; fuck I envy
Cut all this “dad” crap; I’ll have some bitch raep and kill you till last shit
Your trophies and wins I hear these everyday, but I’m hating those man
I been wanting to stab you in the back if there’s a chance
I’ma wanna have all cars parked up in your garage man
I’ma intrude in your house, rob you, stack you in the trash
Anyways, I hope you dead soon man, give me fuck
just to fight, falsely yours, your hating “friend”
This is Alt

My heart’s gone cold I’m wondering why I..
fuckin hatin you all
Wakin the morning I’ma think how
I want to kill you all
And even if I tried to let it that way,
I been knowin all your lies,
It’s tellin me, that it’s all fucked up,
it’s all fucked up..

Dear “friends”, you still ain’t dead or hurt, I hope you would soon then
I ain’t glad – I just think it’s FUCKED UP you still call me friend
If you didn’t wanna share your fame from winning contests
I’ll just fuck you, cut your wrist slit your throat anything that will do
And you little Chinese girl, you’re only some years old
You acted so high, think you’re angel, don’t you?
I’ll just raep you and you’ll be whore
You’re pretty shitty girl – you’re treating me like a pet
Don’t know how much I want you girl, on the bed to raep and violate?
I ain’t that nice Mom, I just hope your Sukhoi crash down
Remember when I called you Momma – you gave me cold shoulder
and just said no – see I’m just like you in a way
I never knew how to befriend other;
I used to always go to war zones and murder
I can’t accept the fact you’re having your hot cars
so when I have a shitty day, I’ma rob ‘em from your garage
to do 90 on the freeway drunk and drive ‘em over a bridge
I’ma steal your SLR and capture you bein tortured
Sometimes I wanna cut your face to see how much it bleeds
Cause you’re all just fucked up, your paper’s such a dilemma for me
See everytime I see you’re grouchy, and I hate you cause you’re like it
I’ma sew your eyelids and cover your whole head in bandages
But you don’t know me like you thought you did, naughty bitch
I’ma slit your throat and hope you can’t ever sing about it
You gotta be dead “friend”, I’ll be the shitty “friend” you gon’ confuse
Falsely yours, Alt — P.S.
You should enter the hell too

My heart’s gone cold I’m wondering why I..
fuckin hatin you all
Wakin the morning I’ma think how
I want to kill you all
And even if I tried to let it that way,
I been knowin all your lies,
It’s tellin me, that it’s all fucked up,
it’s all fucked up..

Dear Mistress-Smith-Will-Lock-A

nd-Load-Gun-In-Your-Mouth,
this ain’t be the last bullet I gonna send your head
It’s been two years and still you suck – think yourself pretty?
I know you got dumped the last contest;
and I would break you down even worse
So you are the unhygienic boy, I hope you get killed
And girl, your eyes right now, wide open at me in sullen way
Hey you, I got a knife and a gun, you dare me to fight?
You know the song by Taking Back Sunday titled, “MakeDamnSure”
bout that guy who just wanna break his friends down so badly
and guess what, when I listened it, I couldn’t help but agree?
That’s kinda how this is, don’t think you’re everything that I want
Now it’s too late – I’m in the battlefield right now, I’m killing
and all time I killed I told myself those I killed are y’all
I hate you when you stepped in silence blood started to fall
I hate you “friend”, could never be together, stop thinking it
You’re a boss now, I hope you can’t sleep and you dream about it
And when you dream I hope I hope you can’t sleep and you SCREAM about it
I hope your conscience EATS AT YOU and you can’t BREATHE my dear “friend”
See Yan; {*machinegun noise*
Shut up fack! I’m trying to talk!
Hey “friend”, that’s an enemy shootin machinegun
and when I slit his throat, guess what, I told myself that he was you
cause I hated you and wanna kill you, and then you’d die too
Well, gotta go, I’m ’bout at their HQ now
Oh shit, a landmine, how am I supposed to escape this out?

{*mine explosion noise*

——————————————————–

Rap Written by Shit – end -

Questions to God

O God, there’s a certain beautiful girl
I wish to make daughter to my mother and father
I wish to make sister to my brother
I wish to make mother to my sons and daughters
Let me be with her forever
When this world spins and swirls

O God, I’m addressing Thou questions:
When I make a contract with the girl,
Will I be able to stop her from falling darker, deeper?
Will I be able to draw her back from her hatred and her carelessness?
Will I be able to go stargazing with her every nights?
Will I be able to make her sing on her journey with me?
Will I be able to deliver her to the place where birds fly?
Will I be able to help her shine where there are so many lights?
Will I be able to make her days bright every time she wakes up?
Will I be able to help her achieve her dreams and fly as high as the sky?
Will I be able to make her experience magnificent stories of happiness?

O God, I’m addressing Thou questions:
When she gives births to our sons and daughters,
Will I give them the life that I never had?
Will I be able to make them proud?
Will I be with them every birthdays and buy them present?
Will I make them smile and laugh of outright happiness?
Will I wipe their tears and shook the nightmares within their sleep?
Will I not make them miss me when I have to work?
Will I be able to keep the food on the table for them?
Will I be able to protect the house we live in?
Will I be able to save money for them so they can go to college?

O God, if I happen not to be perfect,
Will I never hit the girl, and have our sons and daughters witness?
When I have to work, will they never have to leave?
Will I never have to sit in an empty house alone?

If all the answers are negative,
Should I never make with her the contract?

What it felt like to be a hedgehog

Substitutive title: The day you bargained with The Warlock[1]

Just like an alchemist you transmute commoner metals into gold
Your grail changes water into milk and honey like it’s just how it works
You are the king of the world who gets everything you want in your hold
You got the power from The Warlock

Yet in exchange you started seeing other persons better than you
Their possessions, qualities, and luck started inspired you envy
The curse was you’d never be able to label other persons friends
What was worse was those whom you envied would always have things better than you
And mostly they still called you buddy

Resentment started driving you wanting to break them down so badly
In the worst way; and mostly so badly you wanting to kill them all
The next day you woke up you realized you’d turned into a hedgehog
Your spines would hurt others you held dear
Your spines would pierce those you held near
Yet mostly they still called you buddy

The only thing that you could do was just to go to the battlefield
Where others near you were enemies and your spines turned beneficial
Where killing enemies meant high pride and dying was paid with honour

Where friends and enemies were both killed
Where you laughed when your blood was spilled
Where there were no innocence nor guilt

You returned and saw your friends transmuting metals into platinum
Changing water into red wine
As always, you wanted to kill them

[1] Inspired by someone’s note

Written about a month ago · Com

Minutes to Midnight[1]

You all are there, on the dirt dance floor
Under the lights, stomping out your steps
Among yourselves, hugging and kissing
Big laughter, I can’t tell lies or not
You all shine bright, on a stage so high

All this time, I haven’t been there

Freezing to death, in a place so cold
Hidden so tight, in a place so dark
Forgotten breath, hyperventilating
In a room locked, there’s no escaping
Deep in my heart, wishing to be there

You can’t reach me, nor can I reach you

All this time, I haven’t been with you
Wondering when I can manage to do
Dining together in a café
High pitching in the karaoke
Stomping out the same dance floor with you

New divide

If I reach out my hands, I can touch you
But my heart still be distant
Frozen, hidden

Curse me for what I’ve done that I deserve
Resent me and don’t preserve
For I’m not there

[1] Title of a Linkin Park © album (2007)

A Glimpse of Beauty

Poem Version

Sabtu senja yang sejuk setelah siraman hujan
Tiap langkah kakiku berhasrat segera pulang
Dalam sendu cengkerama insan di angkutan kota
Terdengar senandung suara bagai gerimis senja

Kau yang tak peduli apa yang terjadi
Bagai dunia ini milikmu sendiri

Dan bagai gerimis senja kau pun lenyap berlalu
Tinggalkan aku yang setia menatap dalam bisu
Tiada kenangan apapun antara kau dan aku
Hanya dalam hati ini kau toreh rasa rindu

Sekilas Sabtu senja itu berpintas
Sekilas yang buat ku lupa bernapas

Memori Sabtu senja 21 November 2009

Short Story Version

Ini bukan kisah cinta, karena tak ada hal apapun yang terjadi. Ini juga bukan melodrama, karena tak ada interaksi. Tak ada klimaks dan tak ada intrik. Tak ada puncak, hanya ada titik. Hanya satu narasi singkat dari kelana panjang seorang insan. Bagai text box kecil di sidebar buku-buku bahan ajar di sekolah. Bagai satu alinea singkat dalam tujuh ribu halaman diari seorang insan. Aku.

Sabtu, 21 November 2009. Gerimis telah mulai jatuh mengguyur bumi ketika aku masih berada di kampus pada pukul setengah lima sore. Aku ingin segera pulang–mengerjakan tugas kelompok kuliah yang masih terasa menyiksa. Seluruh bahan rujukan sudah diunduh, dan aku ingin segera pulang–mengerjakannya. Kereta rel listrik membawaku separuh jalan, namun aku masih harus naik angkutan kota.

Senja itu terasa sejuk karena efek siraman hujan. Aku benci hujan, namun aku juga suka hujan. Kontradiksi dilematis yang terdapat dalam suatu fenomena alam bernama “hujan” membuat emosiku terangkat–satu hal, aku suka dilema. Aku suka perasaan terperangkap dan tak berdaya, seperti yang kita rasakan ketika terperangkap dalam hujan lebat dan tak menemukan tempat berteduh. Mungkin karena itu aku dapat menyukai hujan, walaupun terlalu banyak aspek yang kubenci darinya.

Namun, aku tetap berterima kasih pada hujan dan bersyukur pada Tuhan yang telah menurunkan hujan. Senja itu terasa sejuk. Aku suka perasaan sejuk. Angkutan kota itu terasa nyaman dalam sejuk, berbeda dengan angkutan kota dalam sengatan terik mentari. Angkutan kota itu adalah panggung kisah kali ini. Kisah yang bukan kisah cinta maupun melodrama.

Setelah memuat penumpang, angkutan kota itu berjalan. Mengantarku menggenapkan sepenuh kepulanganku. Aku ingin segera pulang–mengerjakan tugas kelompok kuliah yang masih terasa menyiksaku. Ponselku di tangan, agar aku dapat berkoordinasi dengan teman kelompokku tentang tugas ini. Beberapa kali aku mengirim pesan singkat, dan beberapa kali aku menerima pesan yang kemudian kujawab. Seperti itu; hingga awalnya aku tak memperhatikan para penumpang lainnya.

Namun, sekejab pandanganku menangkap pencitraannya.

Seorang gadis. Busana casual. Bersenandung, (kuanggap) mengikuti lagu yang diputar media player di ponselnya, yang terhubung dengannya melalui earphone yang menggantung dari telinganya. Ia bersenandung pelan, namun suara earphone cukup untuk membuatmu lupa mengatur volume suaramu sendiri. Dari posisiku, yang berhadapan agak miring dengannya, aku dapat mendengar senandungnya yang terdengar polos.

Ia bersenandung dengan polos, tanpa peduli keadaan sekitarnya.

Mengapa ia begitu menarik perhatianku? Mungkin karena rupanya. Apakah ia cantik? Cantik? Kecantikan adalah konstruksi. Wanita yang jatuh cinta akan menjadi lebih cantik, begitu kata mereka. Namun, wanita yang jatuh cinta seringkali merasa dirinya kurang cantik, sehingga mereka mengenakan macam-macam perhiasan. Wanita dapat merasa cantik apabila dikatakan cantik oleh orang yang mereka cintai. Karena itu, kecantikan adalah tindakan objek rujuk tindakan komunikatif.

Aku tak mendefinisikan gadis itu dengan ‘cantik’.

Namun, aku pun tak mampu mengungkapkan rupanya. Mengapa? Karena benakku mudah lupa. Aku sulit mengingat wajah orang lain, apalagi yang baru kenal. Biasanya aku ingat wajah seseorang setelah tiga sampai lima kali bertemu, dan aku baru dapat mengingat wajah teman-teman sekelasku setelah satu bulan lebih. Rupa gadis ini pun akan segera terlupa olehku, setelah tiga hari, bahkan mungkin setelah tiga jam.

Karena itu, aku menulis kisah ini. Untuk mengingat memori yang akan terlupakan dalam tiga jam.

Sudahlah, rupa gadis itu tak penting bagi kalian. Ia hanya penting bagiku. Katakanlah, ia adalah tipeku. Aku mengapresiasi rupa gadis itu dengan berkali-kali mencuri pandang ke arahnya. Aku tak melakukannya secara terang-terangan. Mengapa? Mungkin karena aku pengecut. Aku setia menatap dalam bisu. Gadis polos yang bersenandung pelan dan (kuanggap) tak menyadari bahwa ia tengah membagi suara indahnya kepada para pendengar di sekitarnya.

Oh, sungguh suatu pemandangan yang menggugah hatiku!

Hanya memandang hal ini, rasanya aku memperolah jutaan inspirasi. Inspirasi yang mengalir menghunjam benakku lebih cepat dari koneksi internet tercepat. Aku merasa impuls-impuls listrik menyengat setiap jaring syarafku, dan vitalitas terserap ke dalam aliran darahku. Aku merasa dapat menciptakan lukisan yang jauh lebih indah daripada lukisan Da Vinci, Giordano, Daumier, atau von Aachen. Aku merasa dapat menulis lakon yang jauh lebih baik daripada milik Shakespeare. Aku merasa dapat mengarang jutaan kisah yang menandingi Nabokov atau Tolstoy.

Oh, sungguh gadis yang begitu menginspirasi jiwaku!

Namun, pemandangan itu hanya sepintas berlalu. Gadis itu kemudian turun di perhentian berikutnya. Pemandangan itu hanya sekilas, katakanlah sepuluh hingga dua puluh menit. Sudah itu lenyap sekejap. Tinggalkan rindu dalam relung-relung hatiku.

Hingga sekarang, aku masih menyesal tidak mengambil potretnya diam-diam dengan kamera ponsel di tanganku. Sepanjang perjalanan, aku terus sibuk menerima pesan dan membalasnya–di sela-sela aktivitas itulah aku mencuri-curi pandang kepada gadis itu. Seharusnya ada sebersit peluang untuk mengambil potretnya diam-diam. Namun, aku tak melakukan hal itu hingga ia berlalu. Hingga sekarang, aku masih menyesal.

Namun, bagian lain hatiku berkata lain. Pemandangan ini takkan lagi istimewa apabila kau mengabadikannya. Pemandangan ini takkan lagi istimewa apabila kau dapat melihatnya kembali ketika kau rindu. Gadis itu takkan lagi istimewa apabila kau memperlihatkannya kepada temanmu dan berkata, “Lihat. Manis kan?” Gadis itu takkan lagi istimewa apabila temanmu tak sependapat dan berkata, “Nggak ah. Biasa aja.” Begitulah kalbuku berbisik padaku.

Aku suka dilema. Aku suka perasaan terperangkap dan tak berdaya, seperti yang aku rasakan sekarang, ketika aku tak sempat mengabadikan rupa gadis itu dan menyimpannya dalam berkas-berkas kenangan lunakku. Ketika aku menyesal namun juga bersyukur. Para seniman di seluruh dunia mengabadikan keindahan dalam bentuk lukisan, patung, dan sajak-sajak cinta. Namun aku membiarkan kenangan itu lebur, hancur, tak bersisa.

Aku hanya dapat menangkupkan tanganku, mencoba menampung pasir-pasir kenangan itu.

Dan kutumpahkan dalam wadah tulisan ini.

Ini bukan kisah cinta, karena tak ada hal apapun yang terjadi.

Namun, aku hanya merasa ingin berbagi.

Dan, secara pribadi, menjadikan kenangan itu abadi, walaupun hanya seperti ini.

Memori Sabtu senja 21 November 2009