Dari Jared Leto dan Bendera Merah Putih

APA YANG SUDAH KAU DAN AKU LAKUKAN UNTUK INDONESIA?

 

 

 

Jumat (22/7) malam, gua bersama seorang temen gua berkesempatan datang ke Java Rockin’ Land (JRL) 2011, suatu festival musik rock di Pantai Carnaval Ancol, Jakarta. Tujuan utama gua adalah nonton Thirty Seconds to Mars (30STM), band heavy rock / alternative rock asal Los Angeles, Amerika Serikat, yang terkenal dengan single-singlenya seperti The KillA Beautiful LieFrom YesterdayKings and Queens, dan Hurricane serta sang vokalis, Jared Leto, yang juga berprofesi sebagai aktor dan dikagumi banyak kaum hawa karena ganteng [bukan, gua bukan gay; ini benar-benar kata para wanita]. FYI, gua jarang nonton festival-festival musik seperti ini, karena gua cuma mahasiswa miskin yang belum punya pendapatan sendiri dan kuliah dibiayai uang rakyat. Hiburan kayak gini, bagi gua, cuma sekali-sekali kalo ada duit lebih hasil nabung. Niat awal cuma hiburan. Namun, gak disangka-sangka, gua memperoleh pengalaman berharga, yang menggelitik rasa nasionalisme di hati gua.

 

30STM datang agak terlambat, namun langsung menghentak Pantai Carnaval Ancol dengan lagu-lagunya yang cadas. A Beautiful LieAttackFrom YesterdayAlibiThe Kill. Di tengah kerumunan massa Echelon (sebutan penggemar 30STM) yang menggila, gua dan temen gua ikut melompat-lompat, headbang, melambai-lambaikan tangan, ikut nyanyi, berteriak; pokoknya menggila. Kemudian, 30STM melanjutkan ke lagu Closer To The Edge. Gua tersentak melihat apa yang Jared Leto lakukan sebelum masuk ke lagu ini.

 

Vokalis flamboyan 30STM ini membawa bendera Merah Putih (ya, bendera pusaka Indonesia) ke atas panggung dan membalut badannya dengan bendera tersebut. Sebelumnya, Leto beberapa kali mengaku sangat terpesona dengan sambutan yang didapatkan dari fans Indonesia dan mengucapkan rasa terima kasihnya karena bisa berada di negeri ini. Kesannya dia suka banget sama Indonesia, kayak Benji dan Joel Madden dari Good Charlotte yang katanya cinta Jakarta dan Indonesia. 30STM kemudian menutup konser pertama kalinya di Indonesia dengan menyanyikan lagu Kings And Queens.

 

Belakangan, gua tahu bahwa Leto melakukan hal yang sama (bawa bendera kebangsaan negara tersebut) di negara-negara yang pernah didatangi 30STM sebelumnya. Tapi, who cares. Poin gua adalah, gua melihat dengan mata kepala gua sendiri, seorang foreigner yang baru pertama kali ke Indonesia, membawa bendera Merah Putih dengan semangat. Dari nniat awal cuma ingin cari hiburan, gua dapat sedikit pengingatan kecil tentang nasionalisme.

 

Sepulang dari Pantai Carnaval Ancol, sesuatu terbersit dalam pikiran gua. Berapa kali kita, warga Indonesia, terjebak nasionalisme musiman? Yang mengibarkan bendera Merah Putih cuma ketika perayaan tujuh belasan? Yang nyanyi Indonesia Raya cuma pas nonton timnas sepakbola kita main di Gelora Bung Karno? Berapa banyak kita terjebak nasionalisme simbolis? Yang merasa bangga punya pernak-pernik keindonesiaan seperti kaos-kaos dengan desain yang “Indonesia banget”? Yang merasa keren dengan nge-Twit kutipan-kutipan yang berbau nasionalis?

 

Karena kesal dibilang nasionalis musiman, seorang Pandji Pragiwaksono (penyiar radio Hard Rock FM, presenter televisi di acara Provocative Proactive, sekaligus penyanyi hiphop) membuat program Satu Tiang Satu Tahun, di mana dia memasang bendera Merah Putih di depan rumah selama satu tahun penuh. (http://pandji.com/satutiang-satutahun) Langkah yang cukup konkrit, menurut gua.

 

Ketika berpikir bahwa bisa jadi gua adalah orang yang terjebak nasionalisme musiman dan simbolis, gua terdiam. Gua merenung, apa yang sudah gua lakukan untuk Indonesia? Dua puluh satu tahun gua habiskan untuk diri sendiri. Gua gak tahu gimana gua bisa mengklaim bahwa gua mencintai bangsa ini. Kata orang, “tak kenal maka tak sayang”. Apakah gua sudah mengenal Indonesia, sehingga bisa menyayanginya? Sepertinya belum. Gua tentu saja belum pernah menjamah 17 ribu pulau yang membentuk 1,9 juta km2 wilayah tanah air ini. Gua tentu saja belum pernah bertemu 237 juta populasi warga negara ini. Ketemu aja belum pernah; gimana mau mengenal, apalagi mencintainya? Speaking of Benedict Anderson’s Imagined Communities, (http://books.google.co.in/books?id=4mmoZFtCpuoC) kita gak pernah bertemu muka dengan saudara-saudara sebangsa dan setanah air kita; mereka yang pernah kita temui mungkin gak sampai 1% dari seluruh populasi negeri ini.

 

Karena bingung, gua nanya ke para follower gua di Formspring pertanyaan ini:

 

Bagaimana cara mencintai ia yang tak pernah kau temui? Yang tak pernah kau salami? Yang tak pernah bersama ketika kau tertawa, tak pernah mengusap air matamu ketika kau menangis? Yang wajahnya belum pernah kau lihat? Yang namanya belum pernah kau ketahui?

 

Konteks pertanyaan ini adalah bagaimana cara mencintai saudara sebangsa dan setanah air kita, tapi sengaja gua bikinblur makna aslinya. Praktis banyak yang jawabnya salah paham. Akan tetapi, gua memang ingin follower gua menjawab secara umum, gimana cara mencintai orang yang tak pernah ditemui. Jawaban-jawaban yang menurut gua bagus antara lain:

 

yah cintailah dengan memberikan manfaat.. Manfaat untuk diri sendiri dan orang-orang lain. (oleh: pageof****)

 

lewat do’a :) (oleh: *******dewi)

 

Dan yang terbagus, menurut gua, adalah:

 

Baca referensinya di Quran dan hadis, begitulah caraku mencintai muhammad (oleh: wahyu****)

 

Gua rangkum jawaban-jawaban ini dengan:

  1. Baca tentang mereka, saudara-saudara sebangsa kita. Bagaimana mereka hidup, baik yang di Pulau Weh maupun yang di Merauke, baik yang di Pulau Miangas maupun yang di Pulau Rote. Ini bisa dilakukan: sudah mulai banyak buku, artikel majalah, dan acara televisi yang membahas kehidupan saudara-saudara sebangsa kita di daerah-daerah lain.
  2. Doakan mereka. Doakan kebaikan mereka, kesehatan mereka, kesejahteraan mereka, kenaikan taraf hidup mereka, dan kegembiraan mereka. Ini mudah: yang perlu dilakukan hanya meluangkan sejenak waktumu untuk mendoakan mereka.
  3. Berikanlah manfaat untuk mereka.

 

Gua terdiam. Bagaimana cara gua memberi manfaat untuk saudara-saudara sebangsa dan setanah air gua?

Apa yang harus gua lakukan untuk Indonesia?

Mungkin kau bisa sharing-sharing. Apa yang sudah kau lakukan untuk Indonesia? Agar bisa menginspirasi gua.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s