Untuk D

Selasa, 28 Desember 2010.

Aku bertanya-tanya mengapa kau tak kunjung hadir di tempatku menjalani sidang skripsiku hari ini. Kau sudah mengatakan akan datang dan aku percaya padamu. Namun, hingga sidangku dimulai, kau tak kunjung hadir. Aku memasuki ruangan sidang yang berkapasitas kecil itu dengan hati bimbang. Setelah dipersilakan oleh sang Ketua Sidang, aku memulai pemaparan skripsiku dengan cemas. Karena kau tak hadir.

Untunglah, tiga menit kemudian, kulihat dirimu muncul di depan pintu berkaca-tembus itu. Aku menjadi tenang dan meneruskan pemaparanku dengan mantap. Aku menjawab pertanyaan sang Penguji Ahli dengan baik hingga dapat dikatakan bahwa apabila ini adalah wawancara kerja, sudah jelas aku akan diterima. Aku melewati sidang dengan meyakinkan. Karena kau telah hadir.

Waktu jeda, Ketua Sidang mempersilakan aku keluar ruangan karena Ketua Sidang, Penguji Ahli, dan Dosen Pembimbing akan berdiskusi menentukan kelulusanku. Aku mulai deg-degan. Tapi, ketika aku keluar ruangan, dirimu yang menyambutku dengan pelukan hangatmu segera melunturkan kecemasanku. Agak malu juga dengan teman-teman sejurusan kita yang berada di sana menonton sidangku.

Ketua Sidang memanggilku kembali ke ruangan dan mengumumkan–bahwa aku dinyatakan LULUS! Whoa! Senyumku merekah lebar. Begitu aku keluar ruangan, tentu saja kau adalah orang pertama yang kusampaikan tentang hal ini. Kau tebarkan senyummu yang indah, lesung pipitmu menghias pipimu yang merah. Kau menggenggam tanganku, mengucapkan selamat.

Kau ingin seperti aku: dibimbing oleh dosen yang sama, yang sama-sama kita kagumi; menyusun skripsi tentang topik yang sama, topik yang menjadi passion kita berdua. Kau yang sejurusan denganku, namun dua angkatan di bawahku, berjanji akan meneruskan jejakku itu. Bahkan, kau telah meminta naskah skripsi lengkap dengan tanda tanganku –membuatku merasa seakan seorang penulis terkenal yang sedang dalam acara pembagian tanda tangan– untuk menjadikan naskah skripsi tersebut motivasi pendorongmu. Aku sangat gembira dan bangga.

Namun, alasan utama kebahagiaanku pada saat itu adalah kehadiranmu di sana. Kau yang telah berjanji mencintaiku. Kau yang akan selalu kulindungi. Kau, orang pertama dengan siapa aku ingin membagi kebahagiaanku pada saat itu.

Hari itu, sebagaimana kujanjikan, aku sepenuhnya milikmu. Kubawa kau ke manapun kau mau. Kita menonton film bersama. Tak ada film yang bagus di bioskop, tapi kita hanya ingin menonton saja. Kemudian, kita minum bersama di sebuah gerai kopi terkenal. Kau mendadak ingin bermain ice-skating, dan aku membawamu ke sebuah mal di Grogol Petamburan, yang memiliki indoor ice rink. Selesai skating, kita berkaraoke, hanya berdua. Setelah makan malam bersama, kuantar kau pulang. Hari itu, sebagaimana kujanjikan, uang tak masalah. Aku hanya ingin membagi kebahagiaanmu denganku.

Aku hanya suka melihat lesung pipitmu yang tampak sangat manis di pipimu ketiku kau tersenyum.

Kau tahu betapa tsundere-nya dirimu? Kau yang biasanya agak skeptis dan lumayan frontal, memiliki banyak sisi yang manis dan hangat. Aku tak tahu, entah mengapa, hanya melihat dirimu saja, hati ini sudah tenang, seakan kau adalah candu. Tubuhmu yang lebih pendek dariku dengan lengan-tungkai yang kurus itu seakan menyuruhku untuk selalu melindungimu, walaupun aku tahu kau adalah gadis yang kuat. Rambut pendekmu dan sinar matamu meyakinkanku akan hal itu.

Dan aku bahagia, karena kau telah hadir di sisiku. Mencintaiku.

Sayangnya, kisah di atas hanyalah fiksi.

Advertisement

2 Responses to Untuk D

  1. mampir.. :)

    ihh ceritanya..
    sampe beneran tangguh pegang2an n berduaan sama bukan muhrim???!!! HARAM tau! :p
    alhamdulillah cuma fiksi..
    makanya cepet2 sono gih bikin jadi HALAL :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s