Jumat, 30 Juli 2010
Tangguh
Curang, pada hari terakhir perjalanan ini Kau perlihatkan matahari terbenam yang sangat indah
Cahayanya menerobos rimbun pohon kelapa dan cengkeh; menerangi petang seakan lampu sorot teater
Menyirami pucuk-pucuk pohon kelapa dan cengkeh hingga bagaikan emas bersinar cerah
Dan aku merasa sangat tenang melihat pemandangan itu; lenyap segala gelisah dan susah
Pun aku sangat takjub
Pucuk-pucuk pohon kelapa yang bersinar emas tampak bagaikan sisir-sisir permaisuri surgawi
Melambai-lambai bagaikan hendak merayuku agar tetap di sini; bagaikan berkata, „Jangan pergi!“
Pun pucuk-pucuk pohon cengkeh yang bersinar emas tampak bagaikan mahkota baginda raja
Menjulang tegak dan kokoh bagaikan hendak menghalangiku agar tak beranjak pergi
Ya, aku sangat takjub
Sempat, aku sekali lupa apa tujuanku menempuh perjalanan panjang ini
Alami disorientasi yang menyesakkan napas dan membutakan arah
Namun, saat menatap tegaknya sang raja dan rayuan sang permaisuri,
Kau seakan bersabda bahwa untuk keagungan sesaat ini Kau hadirkan aku di sini
Arcobaleno di ottima qualita [1]
Sebentuk busur pun melengkung di udara; warna-warni indah pelangi
Sayang engkau tak ada di sampingku, sayang
Keagungan sesaat ini, hanya denganmu aku ingin berbagi
Matahari terbenam pada petang terakhirku di Subi[2]
[1] Arcobaleno di ottima qualita: bahasa Italia, “pelangi terindah”.
[2] Subi: Salah satu kecamatan di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Salah satu pulau dalam daerahnya, Pulau Subi Kecil, merupakan salah satu pulau terdepan dan perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia.